Fluorosis Gigi
Fluorosis dapat terjadi pada gigi dan tulang. Fluorosis gigi adalah salah satu gejala yang muncul apabila seseorang mendapat asupan fluor secara berlebih. Fluorosis gigi merupakan indikasi yang jelas dari kelebihan fluor pada masa kanak – kanak ketika mineralisasi sedag berlangsung dan efek ini tidak tampak jika kelebihan fluor terjadi ketika gigi sudah tumbuh sepenuhnya. Fluorosis gigi dapat kita definisikan sebagai kerusakan enamel secara kualitatif yang merupakan hasil dari peningkatan konsentrasi fluor di sekitar ameloblast selama pembentukan enamel gigi. Fluorosis gigi dapat menyebabkan perubahan warna gigi menjadi tidak putih lagi sebagaimana gigi yang sehat, akan tetapi menjadi pucat dan buram. Pada fluorosis yang lebih berat, selain warnanya lebih gelap, enamel gigi menjadi rapuh. Fluorosis gigi disebut juga dengan mottled enamel.
Gigi Tiruan Pada Anak
Dewasa ini gigi tiruan (baca : gigi palsu) sangat identik dengan orang tua (baca : kakek dan nenek) yang sudah lama kehilangan fungsi kunyah dan ingin memiliki gigi yang normal. Gigi tiruan merupakan alat yang digunakan untuk menggantikan fungsi gigi asli yang hilang. Pada anak-anak jenis-jenis kehilangan gigi sulung antara lain disebabkan oleh trauma, karies dan kongenital.
Oroantral Fistula
Oroantral fistula adalah lubang antara prosesus alveolaris dan sinus maksilaris yang tidak mengalami penutupan dan mengalami epitelisasi. Oroantral fistula dapat disebabkan oleh beberapa faktor: pertama, pencabutan gigi posterior rahang atas terutama pada molar pertama, molar kedua, dan premolar kedua dimana akarnya dekat dengan antrum, kedua: kecelakaan penggunaan alat seperti penggunaan elevator dengan tekanan yang berlebihan kearah superior dalam tindakan pengambilan fragmen atau ujung akar molar atau premolar, pemasangan gigi tiruan implan yang tidak benar dan pengunaan kuret yang tidak benar sehingga menyebabkan terjadinya penembusan lapisan epitel yang tipis dari sinus maksilaris, ketiga: bentuk dinding dasar antrum yang berlekuk mengikuti kontur akar gigi sehingga tulang dasar antrum menjadi menipis, ke empat: adanya jaringan patologis pada ujung akar gigi seperti kista radikuler, granuloma periapikal, dan adanya suatu neoplasia.
Ekstraksi Gigi Sulung
Masihkan Dokter Gigi Dianggap Sebagai “Dokter Kelas dua”
Kita pasti pernah mendengar anggapan beberapa kelompok masyarakat yang menggolonggan dokter gigi berada jauh dibawah dokter umum. Bahkan bukan rahasia umum lagi bagi beberapa siswa selepas SMA pilihan untuk menjadi seorang dokter gigi merupakan pilihan kesekian setelah dokter umum, bahkan tidak jarang ada yang terpaksa kuliah di kedokteran gigi setelah tidak lolos tes masuk kedokteran umum.
Wacana dokter gigi sebagai dokter kelas dua mungkin sudah tidak asing lagi terdengar, di beberapa forum bahkan menjadi suatu perbincangan menarik karena hapir sebagian besar dokter gigi merasa “kurang dihargai” oleh masyarakat. Akar permasalahan ini tentunya kembali lagi kepada anggapan bahwa skill atau kemampuan dari dokter gigi kurang sebanding dengan kemampuan dokter umum. Hal ini tentu saja merupakan pukulan keras bagi para dokter gigi. Lanjut membaca
Jangan Sembarang Memasang Kawat Gigi
Pembaca sekalian pasti sudah sangat tidak asing dengan istilah behel. Behel atau bracket dalam dunia kedokteran gigi juga dikenal sebagai Kawat Gigi adalah alat yang digunakan dalam perawatan ortodontik yang membantu menyelaraskan dan meluruskan gigi dan membantu posisi geligi pada posisi ideal di mana gigi atas dapat menggigit gigi bawah dengan sempurna. Behel atau bracket merupakan alat ortodontik cekat yang sering juga dengan peralatan ortodontik lain untuk membantu memperluas langit-langit mulut atau rahang dan sebaliknya membantu dalam membentuk gigi dan rahang.







